Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang cukup besar jumlahnya dan belum sepenuhnya dimanfaatkan. Produksi jerami padi bervariasi yaitu dapat mencapai 12-1 5 ton per hektar satu kali panen, atau 4-5 ton bahan kering tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman yang digunakan.
Berbagai upaya boleh dilakukan untuk meningkatkan kualitas jerami padi, baik dengan cara fisik, kimia maupun biologis. Tetapi cara-cara tersebut biasanya disamping mahal, juga hasilnya kurang memuaskan. Dengan cara fisik misalnya, memerlukan investasi yang mahal; secara kimiawi meninggalkan residu yang mempunyai efek buruk sedangkan dengan cara biologis memerlukan peralatan yang mahal dan hasilnya kurang disukai ternak (ban amonia yang menyengat).
Cara baru yang relatif murah, praktis dan hasilnya sangat disukai ternak adalah fermentasi dengan menambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (contohnya: starbio, starbioplus, EM-4 dan lain-lain).
1. Bahan.
- Jerami : 1 ton
- Urea : 6 kg
- Starbio atau bahan sejenis : 6 kg
- Air : Secukupnya
2. Tempat
Ada naungan/atap terhindar dari hujan dan sinar matahari langsung.
3. Cara Pembuatan
- Jerami kering panen dilayukan selama ± 1 hari untuk mendapatkan kadar air mendekati 60%, dengan tanda-tanda jerami kita remas, apabila air tidak menetes tetapi tangan kita basah berarti kadar air mendekati 60%.
- Jerami yang sudah dilayukan tersebut dipindahkan ke tempat pembuatan dengan cara ditumpuk setebal 20-30 con (boleh diinjak-injak) kemudian ditaburkan urea, bahan pemacu mikroorganisme (starbio atau bahan sejenis) dan air secukupnya kemudian ditumpuk lagi jerami seperti cara di atas sehingga mencapai ketinggian ± 1,5 m.
- Tumpukan jerami dibiarkan selama 21 hari (tidak perlu dibolak-balik).
- Setelah 21 hari tumpukan jerami dibongkar lalu diangin-anginkan atau dikeringkan.
- Jerami siap diberikan pada ternak atau kita stok dengan digulung, dibok dan disimpan dalam gudang
- Tahan disimpan selama ± 1 tahun
4. Catatan
Dalam membuat jerami fermentasi tidak perlu ditutup. Apabila membuat jerami fermentasi dalam jumlah sedikit tumpukan jerami bisa ditutup dengan sehelai karung goni.
Selain jerami, bahan lain yang bisa di fermentasi untuk makanan ternak antara lain: alang-alang, pucuk tebu dll. Alang-alang dibuat fermentasi dengan dilayukan terlebih dahulu dan harus dipotong-potong antara 5-10 cm (bahan sama yaitu starbio dan urea).
Fungsi urea pada proses pembuatan fermentasi adalah sebagai pensuplai NH , ini digunakan sebagai sumber energi bagi mikrobia dalam poses fermentasi. Jadi disini urea tidak sebagai penambah nutrisi pakan. Bisa juga dikatakan sebagai katalisator dalam proses fermentasi.
5. Perbedaan Amoniasi dan fermentasi
Amoniasi:
Yaitu suatu poses perombakan dari struktur keras menjadi struktur lunak (hanya struktur fisiknya) dan penambahan unsur N saja.
Fermentasi:
Yaitu proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia dan biologis sehingga bahan dari struktur yang komplek menjadi sederhana, sehingga daya cerna ternak menjadi Iebih efisien.
MEDIA CERDAS MEWUJUDKAN MASYARAKAT SEJAHTERA
SMART Media
Tampilkan postingan dengan label Sanggar Muda Aspirasi Rakyat Tani (SMART). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanggar Muda Aspirasi Rakyat Tani (SMART). Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 Juli 2010
Senin, 21 Juni 2010
Ahmad Syiaruddin; GAMBARAN UMUM HKm BATUKLIANG UTARA, LOMBOK TENGAH, NTB
(1). PROFIL HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm) DESA LANTAN KECAMATAN BATUKLIANG UTARA KABUPATEN LOMBOK TENGAH-NTB
Berdasarkan administrative kewilayahan, Desa Lantan masuk dalam wilayah Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah. Desa Lantan merupakan desa dengan tipologi “desa sekitar hutan”, hal ini mengindikasikan bahwa ; (1) luas keseluruhan wilayah administrative Desa Lantan didominasi oleh kawasan hutan, dan (2) tingkat ketergantungan serta interaksi masyarakatnya terhadap hutan cukup tinggi. Adapun luas kawasan hutan di wilayah Desa Lantan mencapai 7.688,37 ha terdiri dari hutan lindung seluas 7.252,37 ha, hutan produksi 276 ha dan hutan konservasi seluas 160 ha.
Secara umum, tanah di wilayah DAS Dodokan sebagian besar bahan maupun sifat-sifatnya dipengaruhi oleh aktivitas Gunung Rinjani. Hasil letusan Gunung Rinjani terbagi dalam dua golongan besar yaitu berupa bahan halus (lapili) dan bahan kasar (bom). Sifat kemasaman kedua bahan tersebut intermedier hingga basa.
Adapun jenis tanah di wilayah HKm Lantan seluas 349 ha yang berada di wilayah DAS Dodokan, didominasi secara berurutan yaitu; (1) Mediteran Coklat Kemerahan seluas 273 ha dan (2) Mediteran Coklat seluas 76 ha.
Kondisi biofisik HKm Lantan secara umum memiliki topografi yang beragam mulai dari agak curam sampai dengan curam. Keadaan topografi ini lebih dipengaruhi oleh pengaruh Gunung Rinjani.
Kondisi penutupan lahan di lokasi HKm Desa Lantan Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah seluas 349 ha yang berada di Kawasan Hutan Lindung Rinjani RTK - 1 masuk dalam kategori jenis penutupan lahannya adalah hutan lahan kering sekunder.
Masyarakat yang mendiami Desa Lantan berdasarkan data Profil Desa Lantan Tahun 2007 berjumlah 5.036 jiwa atau 1.870 KK, dari jumlah tersebut kaum perempuan di Desa Lantan jumlahnya 2.610 jiwa bandingkan dengan kaum laki-laki sebanyak 2.426 jiwa. Hal ini menunjukkan jumlah kaum perempuan di Desa Lantan lebih banyak daripada kaum laki-laki dengan perbandingan sex ratio 1 : 1,08. Berdasarkan pengelompokkan kelas umur, jumlah penduduk Desa Lantan yang berumur antara 15 - 55 tahun merupakan kelompok terbanyak yaitu 3.942 jiwa yang artinya 78,28% penduduk Desa Lantan sedang berada pada usia produktif kemudian diikuti sebanyak 812 jiwa (16,12%) berada pada kelompok umur < 15 tahun dan terakhir sebanyak 282 jiwa (5,6%) berada pada kelompok umur > 55 tahun. Melihat proporsi seperti ini, dapat dikatakan bahwa komposisi penduduk seperti ini merupakan beban pembangunan yang relative berat, antara lain dalam hal pendidikan dan penyediaan lapangan kerja. Sedikitnya proporsi penduduk yang cukup berumur juga dapat menjadi indikasi atas rendahnya harapan hidup masyarakat Desa Lantan.
Sebagian besar penduduk Desa Lantan bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani. Selain itu, penduduk Desa Lantan juga ada yang menjadi pedagang, pengrajin dan pegawai negeri.
Kondisi dan keberadaan sarana prasarana ekonomi di Desa Lantan masih dapat dikatakan minim. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat Desa Lantan yang merupakan desa pinggiran hutan yang identik jauh dari pusat pemerintahan sehingga kegiatan pembangunan terutama di sektor ekonomi agak tertinggal dibandingkan dengan desa-desa yang jaraknya relatif dekat dengan pusat pemerintahan. Sebagai gambaran, sampai dengan saat ini Desa Lantan belum memiliki pasar tradisional dan juga keberadaan bank yang sebenarnya kedua sarana prasarana ekonomi ini memiliki andil yang sangat besar dalam menggeliatkan aktivitas ekonomi di wilayah pedesaan. Adapun sarana prasarana ekonomi yang ada di Desa Lantan, antara lain ; koperasi sebanyak 2 yaitu KSU Mele Maju dan Koperasi Karya Tani, 26 kelompok simpan pinjam, 9 buah industri bahan bangunan dan 4 buah industri makanan.
Kelompok tani HKm di wilayah Desa Lantan secara keseluruhan berjumlah 19 kelompok dengan total anggota sebanyak 450 orang. Secara kelembagaan, keenam belas kelompok tani HKm tersebut bernaung di dalam wadah Majlis Ta’lim Darus-Shidiqien Lantan Desa Lantan. Oleh karena itu, pengelolaan HKm di Desa Lantan secara operasional dibawah kendali Majlis Ta’lim Darus-Sidiqien Lantan Desa Lantan dengan diberikannya IUPHKm oleh Bupati Lombok Tengah. Gambaran umum mengenai anggota kelompok tani HKm Desa Lantan disajikan pada tabel berikut.
Secara keseluruhan dari areal kerja lahan HKm Desa Lantan seluas 217,5 ha berada pada wilayah hutan dengan fungsi lindung (hutan lindung). Dalam penataan areal kerja, lahan HKm tersebut dibagi menjadi 19 kelompok/blok.
Deskripsi mengenai potensi areal keja lahan HKm seluas 217.5 ha memuat data dan informasi mengenai jumlah dan ragam baik tanaman kayu maupun bukan kayu dari masing-masing penggarap di lahan kelola HKm saat ini. Secara detail informasi tentang jumlah dan ragam tanaman kayu maupun bukan masing-masing penggarap disajikan dalam tabel dibawah ini.
Wilayah kelola HKm KSU Mele Maju Desa Lantan seluas 349 ha berada dalam kawasan hutan lindung. Oleh sebab itu, usaha hasil hutan kayu tidak menjadi orientasi atau fokus usaha bagi petani HKm maupun KSU Mele Maju tetapi yang dilakukan adalah menjaga keberadaan tanaman atau tegakan kayu di lahan HKm baik yang tumbuh secara alami maupun ditanam oleh petani HKm untuk tetap dipertahankan keberadaannya. Tanaman kayu yang ada dilahan HKm dimanfaatkan keberadaannya untuk ; (1) menjaga kesuburan tanah, (2) mengatur fungsi tata air, (3) sebagai tempat panjatan bagi tanaman yang tumbuh merambat, (4) menjaga iklim mikro, serta (5) mencegah terjadinya erosi.
Fokus utama pengelolaan HKm Desa Lantan yang berada di kawasan hutan lindung adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan HKm dengan menanam berbagai jenis tanaman MPTs dan buah - buahan serta tanaman merambat disamping tetap menjaga keberadaan tegakan kayu yang ada. Pengembangan usaha hasil hutan bukan kayu yang rencananya akan dikembangkan oleh kelembagaan petani HKm Lantan melalui wadah KSU Mele Maju kedepannya adalah menjadikan Desa Lantan sebagai obyek ”agrowisata buah-buahan”. Berdasarkan data potensi yang ada, hasil hutan bukan kayu yang cukup dominan di lahan HKm Desa Lantan, diantaranya ; (1) pisang, (2) durian, (3) nangka, (4) kopi, (5) coklat, (6) alpokat, (7) nangka, (8) rambutan.
Dalam areal kerja HKm Desa Lantan seluas 349 ha, terdapat mata air yang letaknya di tengah-tengah antara mowun dan orong pakis yang tidak pernah kering sepanjang tahun tetapi keberadaannya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Selama ini air dari mata air tersebut mengalir ke Kali Babak. Selain itu, tidak jauh dari lokasi mata air ini tepatnya dibawah PAL terdapat dataran yang cukup luas dan datar seluas ± 10 ha yang dikelilingi oleh tebing-tebing yang indah dan disisi yang lain ada kali yang melintas.
Areal HKm ini juga masih dihuni oleh hewan liar seperti kera hitam dan ayam hutan dan beberapa jenis burung sehingga sangat potensial untuk dikembangkan ekowisata dan juga menjadi jalur treking menuju Gunung Rinjani, dengan rute masuk melalui pintu HGU menuju areal HKm Orong Keroncong terus keatas tembus ke areal HKm Pondok Sentul sampai ke wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani.
Pemanfaatan kawasan yang akan dilakukan kedepan berdasarkan kondisi status kawasan yang merupakan hutan lindung dan potensi hasil hutan di lahan HKm saat ini, usaha yang akan dikembangkan, meliputi ; (1) menjaga keberadaan tegakan kayu di masing-masing lahan petani HKm dan menanami kembali tanaman kehutanan di lahan HKm yang masih minim jumlah tanaman kayunya, (2) memelihara dengan intensif tanaman MPTs dan buah-buahan dengan melakukan pemangkasan dan penjarangan, serta (3) membudidayakan tanaman rambatan seperti vanili, sirih, empon-empon, dll dengan memanfaatkan tegakan kayu sebagai media rambatan.
Secara rinci kegiatan pengembangan usaha pengelolaan HKm Desa Lantan selama 35 tahun disajikan dalam bentuk matriks dibawah ini.
Selaku pemegang IUPHKm, KSU Mele Maju akan melakukan berbagi upaya perlindungan hutan untuk mendukung terwujudnya pengelolaan HKm yang berkelanjutan. Kegiatan - kegiatan perlindungan hutan dalam wilayah kelola HKm seluas 349 ha yang akan dilakukan, antara lain :
Mengatur kembali komposisi dan pola tanam
Membentuk kelompok pembibitan
Melakukan kegiatan penanaman khususnya tanaman kayu dan MPTs di lahan-lahan HKm yang masih terbuka
Mengintensifkan kegiatan pemeliharaan (pemangkasan, penjarangan, penyulaman)
Pembuatan jalan setapak ke masing-masing blok
Membuat blok perlindungan dan blok budidaya
Membentuk kelompok pengaman hutan
Pengelolaan habitat secara ex-situ dan in-situ
Berdasarkan kondisi kelembagaan kelompok tani HKm saat ini, KSU Mele Maju sebagai wadah yang menaungi pengelolaan HKm di Desa Lantan akan melakukan beberapa upaya dalam rangka penguatan kelembagaan tani HKm, diantaranya :
Merekstrukturisasi organisasi kelompok tani HKm dan menyusun awiq-awiq tentang pengelolaan HKm secara partisipatif
Melaksanakan pertemuan rutin setiap bula di tingkat kelompok
Membangun sekretariat gabungan kelompok HKm
Mengembangkan aturan gabungan kelompok HKm
Menyelenggarakan pelatihan pembukuan, managemen dan dinamika kelompok
Membentuk asosiasi gabungan HKm di tingkat kawasan
Mendorong legalitas gabungan kelompok HKm
Melakukan monitoring dan evaluasi kelompok tani HKm secara periodik
Mengembangkan kelembagaan kelompok tani HKm
Mendorong terbentuknya asosiasi pemegang IUPHKm
Merumuskan aturan asosiasi
Berdasarkan administrative kewilayahan, Desa Lantan masuk dalam wilayah Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah. Desa Lantan merupakan desa dengan tipologi “desa sekitar hutan”, hal ini mengindikasikan bahwa ; (1) luas keseluruhan wilayah administrative Desa Lantan didominasi oleh kawasan hutan, dan (2) tingkat ketergantungan serta interaksi masyarakatnya terhadap hutan cukup tinggi. Adapun luas kawasan hutan di wilayah Desa Lantan mencapai 7.688,37 ha terdiri dari hutan lindung seluas 7.252,37 ha, hutan produksi 276 ha dan hutan konservasi seluas 160 ha.
Secara umum, tanah di wilayah DAS Dodokan sebagian besar bahan maupun sifat-sifatnya dipengaruhi oleh aktivitas Gunung Rinjani. Hasil letusan Gunung Rinjani terbagi dalam dua golongan besar yaitu berupa bahan halus (lapili) dan bahan kasar (bom). Sifat kemasaman kedua bahan tersebut intermedier hingga basa.
Adapun jenis tanah di wilayah HKm Lantan seluas 349 ha yang berada di wilayah DAS Dodokan, didominasi secara berurutan yaitu; (1) Mediteran Coklat Kemerahan seluas 273 ha dan (2) Mediteran Coklat seluas 76 ha.
Kondisi biofisik HKm Lantan secara umum memiliki topografi yang beragam mulai dari agak curam sampai dengan curam. Keadaan topografi ini lebih dipengaruhi oleh pengaruh Gunung Rinjani.
Kondisi penutupan lahan di lokasi HKm Desa Lantan Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah seluas 349 ha yang berada di Kawasan Hutan Lindung Rinjani RTK - 1 masuk dalam kategori jenis penutupan lahannya adalah hutan lahan kering sekunder.
Masyarakat yang mendiami Desa Lantan berdasarkan data Profil Desa Lantan Tahun 2007 berjumlah 5.036 jiwa atau 1.870 KK, dari jumlah tersebut kaum perempuan di Desa Lantan jumlahnya 2.610 jiwa bandingkan dengan kaum laki-laki sebanyak 2.426 jiwa. Hal ini menunjukkan jumlah kaum perempuan di Desa Lantan lebih banyak daripada kaum laki-laki dengan perbandingan sex ratio 1 : 1,08. Berdasarkan pengelompokkan kelas umur, jumlah penduduk Desa Lantan yang berumur antara 15 - 55 tahun merupakan kelompok terbanyak yaitu 3.942 jiwa yang artinya 78,28% penduduk Desa Lantan sedang berada pada usia produktif kemudian diikuti sebanyak 812 jiwa (16,12%) berada pada kelompok umur < 15 tahun dan terakhir sebanyak 282 jiwa (5,6%) berada pada kelompok umur > 55 tahun. Melihat proporsi seperti ini, dapat dikatakan bahwa komposisi penduduk seperti ini merupakan beban pembangunan yang relative berat, antara lain dalam hal pendidikan dan penyediaan lapangan kerja. Sedikitnya proporsi penduduk yang cukup berumur juga dapat menjadi indikasi atas rendahnya harapan hidup masyarakat Desa Lantan.
Sebagian besar penduduk Desa Lantan bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani. Selain itu, penduduk Desa Lantan juga ada yang menjadi pedagang, pengrajin dan pegawai negeri.
Kondisi dan keberadaan sarana prasarana ekonomi di Desa Lantan masih dapat dikatakan minim. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat Desa Lantan yang merupakan desa pinggiran hutan yang identik jauh dari pusat pemerintahan sehingga kegiatan pembangunan terutama di sektor ekonomi agak tertinggal dibandingkan dengan desa-desa yang jaraknya relatif dekat dengan pusat pemerintahan. Sebagai gambaran, sampai dengan saat ini Desa Lantan belum memiliki pasar tradisional dan juga keberadaan bank yang sebenarnya kedua sarana prasarana ekonomi ini memiliki andil yang sangat besar dalam menggeliatkan aktivitas ekonomi di wilayah pedesaan. Adapun sarana prasarana ekonomi yang ada di Desa Lantan, antara lain ; koperasi sebanyak 2 yaitu KSU Mele Maju dan Koperasi Karya Tani, 26 kelompok simpan pinjam, 9 buah industri bahan bangunan dan 4 buah industri makanan.
Kelompok tani HKm di wilayah Desa Lantan secara keseluruhan berjumlah 19 kelompok dengan total anggota sebanyak 450 orang. Secara kelembagaan, keenam belas kelompok tani HKm tersebut bernaung di dalam wadah Majlis Ta’lim Darus-Shidiqien Lantan Desa Lantan. Oleh karena itu, pengelolaan HKm di Desa Lantan secara operasional dibawah kendali Majlis Ta’lim Darus-Sidiqien Lantan Desa Lantan dengan diberikannya IUPHKm oleh Bupati Lombok Tengah. Gambaran umum mengenai anggota kelompok tani HKm Desa Lantan disajikan pada tabel berikut.
Secara keseluruhan dari areal kerja lahan HKm Desa Lantan seluas 217,5 ha berada pada wilayah hutan dengan fungsi lindung (hutan lindung). Dalam penataan areal kerja, lahan HKm tersebut dibagi menjadi 19 kelompok/blok.
Deskripsi mengenai potensi areal keja lahan HKm seluas 217.5 ha memuat data dan informasi mengenai jumlah dan ragam baik tanaman kayu maupun bukan kayu dari masing-masing penggarap di lahan kelola HKm saat ini. Secara detail informasi tentang jumlah dan ragam tanaman kayu maupun bukan masing-masing penggarap disajikan dalam tabel dibawah ini.
Wilayah kelola HKm KSU Mele Maju Desa Lantan seluas 349 ha berada dalam kawasan hutan lindung. Oleh sebab itu, usaha hasil hutan kayu tidak menjadi orientasi atau fokus usaha bagi petani HKm maupun KSU Mele Maju tetapi yang dilakukan adalah menjaga keberadaan tanaman atau tegakan kayu di lahan HKm baik yang tumbuh secara alami maupun ditanam oleh petani HKm untuk tetap dipertahankan keberadaannya. Tanaman kayu yang ada dilahan HKm dimanfaatkan keberadaannya untuk ; (1) menjaga kesuburan tanah, (2) mengatur fungsi tata air, (3) sebagai tempat panjatan bagi tanaman yang tumbuh merambat, (4) menjaga iklim mikro, serta (5) mencegah terjadinya erosi.
Fokus utama pengelolaan HKm Desa Lantan yang berada di kawasan hutan lindung adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan HKm dengan menanam berbagai jenis tanaman MPTs dan buah - buahan serta tanaman merambat disamping tetap menjaga keberadaan tegakan kayu yang ada. Pengembangan usaha hasil hutan bukan kayu yang rencananya akan dikembangkan oleh kelembagaan petani HKm Lantan melalui wadah KSU Mele Maju kedepannya adalah menjadikan Desa Lantan sebagai obyek ”agrowisata buah-buahan”. Berdasarkan data potensi yang ada, hasil hutan bukan kayu yang cukup dominan di lahan HKm Desa Lantan, diantaranya ; (1) pisang, (2) durian, (3) nangka, (4) kopi, (5) coklat, (6) alpokat, (7) nangka, (8) rambutan.
Dalam areal kerja HKm Desa Lantan seluas 349 ha, terdapat mata air yang letaknya di tengah-tengah antara mowun dan orong pakis yang tidak pernah kering sepanjang tahun tetapi keberadaannya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Selama ini air dari mata air tersebut mengalir ke Kali Babak. Selain itu, tidak jauh dari lokasi mata air ini tepatnya dibawah PAL terdapat dataran yang cukup luas dan datar seluas ± 10 ha yang dikelilingi oleh tebing-tebing yang indah dan disisi yang lain ada kali yang melintas.
Areal HKm ini juga masih dihuni oleh hewan liar seperti kera hitam dan ayam hutan dan beberapa jenis burung sehingga sangat potensial untuk dikembangkan ekowisata dan juga menjadi jalur treking menuju Gunung Rinjani, dengan rute masuk melalui pintu HGU menuju areal HKm Orong Keroncong terus keatas tembus ke areal HKm Pondok Sentul sampai ke wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani.
Pemanfaatan kawasan yang akan dilakukan kedepan berdasarkan kondisi status kawasan yang merupakan hutan lindung dan potensi hasil hutan di lahan HKm saat ini, usaha yang akan dikembangkan, meliputi ; (1) menjaga keberadaan tegakan kayu di masing-masing lahan petani HKm dan menanami kembali tanaman kehutanan di lahan HKm yang masih minim jumlah tanaman kayunya, (2) memelihara dengan intensif tanaman MPTs dan buah-buahan dengan melakukan pemangkasan dan penjarangan, serta (3) membudidayakan tanaman rambatan seperti vanili, sirih, empon-empon, dll dengan memanfaatkan tegakan kayu sebagai media rambatan.
Secara rinci kegiatan pengembangan usaha pengelolaan HKm Desa Lantan selama 35 tahun disajikan dalam bentuk matriks dibawah ini.
Selaku pemegang IUPHKm, KSU Mele Maju akan melakukan berbagi upaya perlindungan hutan untuk mendukung terwujudnya pengelolaan HKm yang berkelanjutan. Kegiatan - kegiatan perlindungan hutan dalam wilayah kelola HKm seluas 349 ha yang akan dilakukan, antara lain :
Mengatur kembali komposisi dan pola tanam
Membentuk kelompok pembibitan
Melakukan kegiatan penanaman khususnya tanaman kayu dan MPTs di lahan-lahan HKm yang masih terbuka
Mengintensifkan kegiatan pemeliharaan (pemangkasan, penjarangan, penyulaman)
Pembuatan jalan setapak ke masing-masing blok
Membuat blok perlindungan dan blok budidaya
Membentuk kelompok pengaman hutan
Pengelolaan habitat secara ex-situ dan in-situ
Berdasarkan kondisi kelembagaan kelompok tani HKm saat ini, KSU Mele Maju sebagai wadah yang menaungi pengelolaan HKm di Desa Lantan akan melakukan beberapa upaya dalam rangka penguatan kelembagaan tani HKm, diantaranya :
Merekstrukturisasi organisasi kelompok tani HKm dan menyusun awiq-awiq tentang pengelolaan HKm secara partisipatif
Melaksanakan pertemuan rutin setiap bula di tingkat kelompok
Membangun sekretariat gabungan kelompok HKm
Mengembangkan aturan gabungan kelompok HKm
Menyelenggarakan pelatihan pembukuan, managemen dan dinamika kelompok
Membentuk asosiasi gabungan HKm di tingkat kawasan
Mendorong legalitas gabungan kelompok HKm
Melakukan monitoring dan evaluasi kelompok tani HKm secara periodik
Mengembangkan kelembagaan kelompok tani HKm
Mendorong terbentuknya asosiasi pemegang IUPHKm
Merumuskan aturan asosiasi
Ahmad Syiaruddin; GAMBARAN UMUM HKm DESA LANTAN,BATUKLIANG UTARA, LOMBOK TENGAH,NTB
PROFIL HKm DESA LANTAN KECAMATAN BATUKLIANG UTARA KABUPATEN LOMBOK TENGAH-NTB
Desa Lantan masuk dalam wilayah Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah. Desa Lantan merupakan desa dengan tipologi “desa sekitar hutan”, hal ini mengindikasikan bahwa ; (1) luas keseluruhan wilayah administrative Desa Lantan didominasi oleh kawasan hutan, dan (2) tingkat ketergantungan serta interaksi masyarakatnya terhadap hutan cukup tinggi. Adapun luas kawasan hutan di wilayah Desa Lantan mencapai 7.688,37 ha terdiri dari hutan lindung seluas 7.252,37 ha, hutan produksi 276 ha dan hutan konservasi seluas 160 ha.
Secara umum, tanah di wilayah DAS Dodokan sebagian besar bahan maupun sifat-sifatnya dipengaruhi oleh aktivitas Gunung Rinjani. Hasil letusan Gunung Rinjani terbagi dalam dua golongan besar yaitu berupa bahan halus (lapili) dan bahan kasar (bom). Sifat kemasaman kedua bahan tersebut intermedier hingga basa.
Adapun jenis tanah di wilayah HKm Lantan seluas 349 ha yang berada di wilayah DAS Dodokan, didominasi secara berurutan yaitu; (1) Mediteran Coklat Kemerahan seluas 273 ha dan (2) Mediteran Coklat seluas 76 ha.
Kondisi penutupan lahan di lokasi HKm Desa Lantan Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah seluas 349 ha yang berada di Kawasan Hutan Lindung Rinjani RTK - 1 masuk dalam kategori jenis penutupan lahannya adalah hutan lahan kering sekunder.
Masyarakat yang mendiami Desa Lantan berdasarkan data Profil Desa Lantan Tahun 2007 berjumlah 5.036 jiwa atau 1.870 KK, dari jumlah tersebut kaum perempuan di Desa Lantan jumlahnya 2.610 jiwa bandingkan dengan kaum laki-laki sebanyak 2.426 jiwa. Hal ini menunjukkan jumlah kaum perempuan di Desa Lantan lebih banyak daripada kaum laki-laki dengan perbandingan sex ratio 1 : 1,08. Berdasarkan pengelompokkan kelas umur, jumlah penduduk Desa Lantan yang berumur antara 15 - 55 tahun merupakan kelompok terbanyak yaitu 3.942 jiwa yang artinya 78,28% penduduk Desa Lantan sedang berada pada usia produktif kemudian diikuti sebanyak 812 jiwa (16,12%) berada pada kelompok umur < 15 tahun dan terakhir sebanyak 282 jiwa (5,6%) berada pada kelompok umur > 55 tahun. Melihat proporsi seperti ini, dapat dikatakan bahwa komposisi penduduk seperti ini merupakan beban pembangunan yang relative berat, antara lain dalam hal pendidikan dan penyediaan lapangan kerja. Sedikitnya proporsi penduduk yang cukup berumur juga dapat menjadi indikasi atas rendahnya harapan hidup masyarakat Desa Lantan.
Sebagian besar penduduk Desa Lantan bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani. Selain itu, penduduk Desa Lantan juga ada yang menjadi pedagang, pengrajin dan pegawai negeri.
Kondisi dan keberadaan sarana prasarana ekonomi di Desa Lantan masih dapat dikatakan minim. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat Desa Lantan yang merupakan desa pinggiran hutan yang identik jauh dari pusat pemerintahan sehingga kegiatan pembangunan terutama di sektor ekonomi agak tertinggal dibandingkan dengan desa-desa yang jaraknya relatif dekat dengan pusat pemerintahan. Sebagai gambaran, sampai dengan saat ini Desa Lantan belum memiliki pasar tradisional dan juga keberadaan bank yang sebenarnya kedua sarana prasarana ekonomi ini memiliki andil yang sangat besar dalam menggeliatkan aktivitas ekonomi di wilayah pedesaan. Adapun sarana prasarana ekonomi yang ada di Desa Lantan, antara lain ; koperasi sebanyak 2 yaitu KSU Mele Maju dan Koperasi Karya Tani, 26 kelompok simpan pinjam, 9 buah industri bahan bangunan dan 4 buah industri makanan.
Kelompok tani HKm di wilayah Desa Lantan secara keseluruhan berjumlah 19 kelompok dengan total anggota sebanyak 450 orang. Secara kelembagaan, keenam belas kelompok tani HKm tersebut bernaung di dalam wadah Majlis Ta’lim Darus-Shidiqien Lantan Desa Lantan. Oleh karena itu, pengelolaan HKm di Desa Lantan secara operasional dibawah kendali Majlis Ta’lim Darus-Sidiqien Lantan Desa Lantan dengan diberikannya IUPHKm oleh Bupati Lombok Tengah.
Secara keseluruhan dari areal kerja lahan HKm Desa Lantan seluas 217,5 ha berada pada wilayah hutan dengan fungsi lindung (hutan lindung). Dalam penataan areal kerja, lahan HKm tersebut dibagi menjadi 19 kelompok/blok.
Deskripsi mengenai potensi areal keja lahan HKm seluas 217.5 ha memuat data dan informasi mengenai jumlah dan ragam baik tanaman kayu maupun bukan kayu dari masing-masing penggarap di lahan kelola HKm saat ini.
Wilayah kelola HKm KSU Mele Maju Desa Lantan seluas 349 ha berada dalam kawasan hutan lindung. Oleh sebab itu, usaha hasil hutan kayu tidak menjadi orientasi atau fokus usaha bagi petani HKm maupun KSU Mele Maju tetapi yang dilakukan adalah menjaga keberadaan tanaman atau tegakan kayu di lahan HKm baik yang tumbuh secara alami maupun ditanam oleh petani HKm untuk tetap dipertahankan keberadaannya. Tanaman kayu yang ada dilahan HKm dimanfaatkan keberadaannya untuk ; (1) menjaga kesuburan tanah, (2) mengatur fungsi tata air, (3) sebagai tempat panjatan bagi tanaman yang tumbuh merambat, (4) menjaga iklim mikro, serta (5) mencegah terjadinya erosi.
Fokus utama pengelolaan HKm Desa Lantan yang berada di kawasan hutan lindung adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan HKm dengan menanam berbagai jenis tanaman MPTs dan buah - buahan serta tanaman merambat disamping tetap menjaga keberadaan tegakan kayu yang ada. Pengembangan usaha hasil hutan bukan kayu yang rencananya akan dikembangkan oleh kelembagaan petani HKm Lantan melalui wadah KSU Mele Maju kedepannya adalah menjadikan Desa Lantan sebagai obyek ”agrowisata buah-buahan”. Berdasarkan data potensi yang ada, hasil hutan bukan kayu yang cukup dominan di lahan HKm Desa Lantan, diantaranya ; (1) pisang, (2) durian, (3) nangka, (4) kopi, (5) coklat, (6) alpokat, (7) nangka, (8) rambutan.
Dalam areal kerja HKm Desa Lantan seluas 349 ha, terdapat mata air yang letaknya di tengah-tengah antara mowun dan orong pakis yang tidak pernah kering sepanjang tahun tetapi keberadaannya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Selama ini air dari mata air tersebut mengalir ke Kali Babak. Selain itu, tidak jauh dari lokasi mata air ini tepatnya dibawah PAL terdapat dataran yang cukup luas dan datar seluas ± 10 ha yang dikelilingi oleh tebing-tebing yang indah dan disisi yang lain ada kali yang melintas.
Areal HKm ini juga masih dihuni oleh hewan liar seperti kera hitam dan ayam hutan dan beberapa jenis burung sehingga sangat potensial untuk dikembangkan ekowisata dan juga menjadi jalur treking menuju Gunung Rinjani, dengan rute masuk melalui pintu HGU menuju areal HKm Orong Keroncong terus keatas tembus ke areal HKm Pondok Sentul sampai ke wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani.
Pemanfaatan kawasan yang akan dilakukan kedepan berdasarkan kondisi status kawasan yang merupakan hutan lindung dan potensi hasil hutan di lahan HKm saat ini, usaha yang akan dikembangkan, meliputi ; (1) menjaga keberadaan tegakan kayu di masing-masing lahan petani HKm dan menanami kembali tanaman kehutanan di lahan HKm yang masih minim jumlah tanaman kayunya, (2) memelihara dengan intensif tanaman MPTs dan buah-buahan dengan melakukan pemangkasan dan penjarangan, serta (3) membudidayakan tanaman rambatan seperti vanili, sirih, empon-empon, dll dengan memanfaatkan tegakan kayu sebagai media rambatan.
Selaku pemegang IUPHKm, KSU Mele Maju akan melakukan berbagi upaya perlindungan hutan untuk mendukung terwujudnya pengelolaan HKm yang berkelanjutan. Kegiatan - kegiatan perlindungan hutan dalam wilayah kelola HKm seluas 349 ha yang akan dilakukan, antara lain :
Mengatur kembali komposisi dan pola tanam
Membentuk kelompok pembibitan
Melakukan kegiatan penanaman khususnya tanaman kayu dan MPTs di lahan-lahan HKm yang masih terbuka
Mengintensifkan kegiatan pemeliharaan (pemangkasan, penjarangan, penyulaman)
Pembuatan jalan setapak ke masing-masing blok
Membuat blok perlindungan dan blok budidaya
Membentuk kelompok pengaman hutan
Pengelolaan habitat secara ex-situ dan in-situ
Berdasarkan kondisi kelembagaan kelompok tani HKm saat ini, KSU Mele Maju sebagai wadah yang menaungi pengelolaan HKm di Desa Lantan akan melakukan beberapa upaya dalam rangka penguatan kelembagaan tani HKm, diantaranya :
Merekstrukturisasi organisasi kelompok tani HKm dan menyusun awiq-awiq tentang pengelolaan HKm secara partisipatif
Melaksanakan pertemuan rutin setiap bula di tingkat kelompok
Membangun sekretariat gabungan kelompok HKm
Mengembangkan aturan gabungan kelompok HKm
Menyelenggarakan pelatihan pembukuan, managemen dan dinamika kelompok
Membentuk asosiasi gabungan HKm di tingkat kawasan
Mendorong legalitas gabungan kelompok HKm
Melakukan monitoring dan evaluasi kelompok tani HKm secara periodik
Mengembangkan kelembagaan kelompok tani HKm
Mendorong terbentuknya asosiasi pemegang IUPHKm
Merumuskan aturan asosiasi
Desa Lantan masuk dalam wilayah Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah. Desa Lantan merupakan desa dengan tipologi “desa sekitar hutan”, hal ini mengindikasikan bahwa ; (1) luas keseluruhan wilayah administrative Desa Lantan didominasi oleh kawasan hutan, dan (2) tingkat ketergantungan serta interaksi masyarakatnya terhadap hutan cukup tinggi. Adapun luas kawasan hutan di wilayah Desa Lantan mencapai 7.688,37 ha terdiri dari hutan lindung seluas 7.252,37 ha, hutan produksi 276 ha dan hutan konservasi seluas 160 ha.
Secara umum, tanah di wilayah DAS Dodokan sebagian besar bahan maupun sifat-sifatnya dipengaruhi oleh aktivitas Gunung Rinjani. Hasil letusan Gunung Rinjani terbagi dalam dua golongan besar yaitu berupa bahan halus (lapili) dan bahan kasar (bom). Sifat kemasaman kedua bahan tersebut intermedier hingga basa.
Adapun jenis tanah di wilayah HKm Lantan seluas 349 ha yang berada di wilayah DAS Dodokan, didominasi secara berurutan yaitu; (1) Mediteran Coklat Kemerahan seluas 273 ha dan (2) Mediteran Coklat seluas 76 ha.
Kondisi penutupan lahan di lokasi HKm Desa Lantan Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah seluas 349 ha yang berada di Kawasan Hutan Lindung Rinjani RTK - 1 masuk dalam kategori jenis penutupan lahannya adalah hutan lahan kering sekunder.
Masyarakat yang mendiami Desa Lantan berdasarkan data Profil Desa Lantan Tahun 2007 berjumlah 5.036 jiwa atau 1.870 KK, dari jumlah tersebut kaum perempuan di Desa Lantan jumlahnya 2.610 jiwa bandingkan dengan kaum laki-laki sebanyak 2.426 jiwa. Hal ini menunjukkan jumlah kaum perempuan di Desa Lantan lebih banyak daripada kaum laki-laki dengan perbandingan sex ratio 1 : 1,08. Berdasarkan pengelompokkan kelas umur, jumlah penduduk Desa Lantan yang berumur antara 15 - 55 tahun merupakan kelompok terbanyak yaitu 3.942 jiwa yang artinya 78,28% penduduk Desa Lantan sedang berada pada usia produktif kemudian diikuti sebanyak 812 jiwa (16,12%) berada pada kelompok umur < 15 tahun dan terakhir sebanyak 282 jiwa (5,6%) berada pada kelompok umur > 55 tahun. Melihat proporsi seperti ini, dapat dikatakan bahwa komposisi penduduk seperti ini merupakan beban pembangunan yang relative berat, antara lain dalam hal pendidikan dan penyediaan lapangan kerja. Sedikitnya proporsi penduduk yang cukup berumur juga dapat menjadi indikasi atas rendahnya harapan hidup masyarakat Desa Lantan.
Sebagian besar penduduk Desa Lantan bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani. Selain itu, penduduk Desa Lantan juga ada yang menjadi pedagang, pengrajin dan pegawai negeri.
Kondisi dan keberadaan sarana prasarana ekonomi di Desa Lantan masih dapat dikatakan minim. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat Desa Lantan yang merupakan desa pinggiran hutan yang identik jauh dari pusat pemerintahan sehingga kegiatan pembangunan terutama di sektor ekonomi agak tertinggal dibandingkan dengan desa-desa yang jaraknya relatif dekat dengan pusat pemerintahan. Sebagai gambaran, sampai dengan saat ini Desa Lantan belum memiliki pasar tradisional dan juga keberadaan bank yang sebenarnya kedua sarana prasarana ekonomi ini memiliki andil yang sangat besar dalam menggeliatkan aktivitas ekonomi di wilayah pedesaan. Adapun sarana prasarana ekonomi yang ada di Desa Lantan, antara lain ; koperasi sebanyak 2 yaitu KSU Mele Maju dan Koperasi Karya Tani, 26 kelompok simpan pinjam, 9 buah industri bahan bangunan dan 4 buah industri makanan.
Kelompok tani HKm di wilayah Desa Lantan secara keseluruhan berjumlah 19 kelompok dengan total anggota sebanyak 450 orang. Secara kelembagaan, keenam belas kelompok tani HKm tersebut bernaung di dalam wadah Majlis Ta’lim Darus-Shidiqien Lantan Desa Lantan. Oleh karena itu, pengelolaan HKm di Desa Lantan secara operasional dibawah kendali Majlis Ta’lim Darus-Sidiqien Lantan Desa Lantan dengan diberikannya IUPHKm oleh Bupati Lombok Tengah.
Secara keseluruhan dari areal kerja lahan HKm Desa Lantan seluas 217,5 ha berada pada wilayah hutan dengan fungsi lindung (hutan lindung). Dalam penataan areal kerja, lahan HKm tersebut dibagi menjadi 19 kelompok/blok.
Deskripsi mengenai potensi areal keja lahan HKm seluas 217.5 ha memuat data dan informasi mengenai jumlah dan ragam baik tanaman kayu maupun bukan kayu dari masing-masing penggarap di lahan kelola HKm saat ini.
Wilayah kelola HKm KSU Mele Maju Desa Lantan seluas 349 ha berada dalam kawasan hutan lindung. Oleh sebab itu, usaha hasil hutan kayu tidak menjadi orientasi atau fokus usaha bagi petani HKm maupun KSU Mele Maju tetapi yang dilakukan adalah menjaga keberadaan tanaman atau tegakan kayu di lahan HKm baik yang tumbuh secara alami maupun ditanam oleh petani HKm untuk tetap dipertahankan keberadaannya. Tanaman kayu yang ada dilahan HKm dimanfaatkan keberadaannya untuk ; (1) menjaga kesuburan tanah, (2) mengatur fungsi tata air, (3) sebagai tempat panjatan bagi tanaman yang tumbuh merambat, (4) menjaga iklim mikro, serta (5) mencegah terjadinya erosi.
Fokus utama pengelolaan HKm Desa Lantan yang berada di kawasan hutan lindung adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan HKm dengan menanam berbagai jenis tanaman MPTs dan buah - buahan serta tanaman merambat disamping tetap menjaga keberadaan tegakan kayu yang ada. Pengembangan usaha hasil hutan bukan kayu yang rencananya akan dikembangkan oleh kelembagaan petani HKm Lantan melalui wadah KSU Mele Maju kedepannya adalah menjadikan Desa Lantan sebagai obyek ”agrowisata buah-buahan”. Berdasarkan data potensi yang ada, hasil hutan bukan kayu yang cukup dominan di lahan HKm Desa Lantan, diantaranya ; (1) pisang, (2) durian, (3) nangka, (4) kopi, (5) coklat, (6) alpokat, (7) nangka, (8) rambutan.
Dalam areal kerja HKm Desa Lantan seluas 349 ha, terdapat mata air yang letaknya di tengah-tengah antara mowun dan orong pakis yang tidak pernah kering sepanjang tahun tetapi keberadaannya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Selama ini air dari mata air tersebut mengalir ke Kali Babak. Selain itu, tidak jauh dari lokasi mata air ini tepatnya dibawah PAL terdapat dataran yang cukup luas dan datar seluas ± 10 ha yang dikelilingi oleh tebing-tebing yang indah dan disisi yang lain ada kali yang melintas.
Areal HKm ini juga masih dihuni oleh hewan liar seperti kera hitam dan ayam hutan dan beberapa jenis burung sehingga sangat potensial untuk dikembangkan ekowisata dan juga menjadi jalur treking menuju Gunung Rinjani, dengan rute masuk melalui pintu HGU menuju areal HKm Orong Keroncong terus keatas tembus ke areal HKm Pondok Sentul sampai ke wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani.
Pemanfaatan kawasan yang akan dilakukan kedepan berdasarkan kondisi status kawasan yang merupakan hutan lindung dan potensi hasil hutan di lahan HKm saat ini, usaha yang akan dikembangkan, meliputi ; (1) menjaga keberadaan tegakan kayu di masing-masing lahan petani HKm dan menanami kembali tanaman kehutanan di lahan HKm yang masih minim jumlah tanaman kayunya, (2) memelihara dengan intensif tanaman MPTs dan buah-buahan dengan melakukan pemangkasan dan penjarangan, serta (3) membudidayakan tanaman rambatan seperti vanili, sirih, empon-empon, dll dengan memanfaatkan tegakan kayu sebagai media rambatan.
Selaku pemegang IUPHKm, KSU Mele Maju akan melakukan berbagi upaya perlindungan hutan untuk mendukung terwujudnya pengelolaan HKm yang berkelanjutan. Kegiatan - kegiatan perlindungan hutan dalam wilayah kelola HKm seluas 349 ha yang akan dilakukan, antara lain :
Mengatur kembali komposisi dan pola tanam
Membentuk kelompok pembibitan
Melakukan kegiatan penanaman khususnya tanaman kayu dan MPTs di lahan-lahan HKm yang masih terbuka
Mengintensifkan kegiatan pemeliharaan (pemangkasan, penjarangan, penyulaman)
Pembuatan jalan setapak ke masing-masing blok
Membuat blok perlindungan dan blok budidaya
Membentuk kelompok pengaman hutan
Pengelolaan habitat secara ex-situ dan in-situ
Berdasarkan kondisi kelembagaan kelompok tani HKm saat ini, KSU Mele Maju sebagai wadah yang menaungi pengelolaan HKm di Desa Lantan akan melakukan beberapa upaya dalam rangka penguatan kelembagaan tani HKm, diantaranya :
Merekstrukturisasi organisasi kelompok tani HKm dan menyusun awiq-awiq tentang pengelolaan HKm secara partisipatif
Melaksanakan pertemuan rutin setiap bula di tingkat kelompok
Membangun sekretariat gabungan kelompok HKm
Mengembangkan aturan gabungan kelompok HKm
Menyelenggarakan pelatihan pembukuan, managemen dan dinamika kelompok
Membentuk asosiasi gabungan HKm di tingkat kawasan
Mendorong legalitas gabungan kelompok HKm
Melakukan monitoring dan evaluasi kelompok tani HKm secara periodik
Mengembangkan kelembagaan kelompok tani HKm
Mendorong terbentuknya asosiasi pemegang IUPHKm
Merumuskan aturan asosiasi
Sabtu, 19 Juni 2010
INFORMASI PERTANIAN TERPADU SMART

KOMPOS AROMA BUAH
Jadilah, sebuah terobosan dilakukan. Yang menarik, cara pembuatannya cuma menggunakan Rumus 1, 2, 3. Begini caranya:
1. Siapkan 1 kilogram buah yang telah dirajang.
2. Siapkan juga 2 ons gula merah.
3. Siapkan pula 3 liter air.
4. Campurkan gula merah dan air tersebut dan masukkan ke dalam komposter.
5. Sementara, buah yang sudah dirajang dimasukkan ke dalam plastik yang sudah dibolongi lalu diikat atau dirapatkan.
6. Masukkan plastik berisi buah tersebut ke dalam komposter yang sudah terisi air gula merah lalu tutup wadah komposter itu.
7. Jangan lupa, setiap 3 kali sehari, campuran di komposter harus diaduk.
8. Dalam waktu satu bulan kompos cair aroma buah sudah bisa dipanen.
Kompos itu kalau sudah jadi akan mengeluarkan buih putih.
PERAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH
Permaslahan sampah di negeri kita ini semakon menuntut penanaganan yang serius, karena menurut pengamatan telah mencapai kondisi yang kritis.Tugas siapa sebenarnya..?
Jawabnya adalah tugas bersama, masyarakat dan pemerintah. Masyarakat sebagai sumber sampah yang paling kecil dihimbau untuk berperan secara aktif. peran masyarakat dapat dimulai dari diri sendiri, dapur sendiri, rumah sendiri, halaman sendiri dan jangan lupa ½ bahu jalan didepan rumah kita adalah kewajiban kita.
Kalau seluruh masyarakat berperan, tentu saja jumlah sampah yang timbul dapat ditekan sedemikian rupa.
Para pakar baik didalam maupun diluar negeri telah mengajak masyarakat untuk menerapkan prinsip 4R dalam aktivitas mengurangi volume sampah.
Bilamana prinsip 4R ini dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari maka kita pastikan bahwa kondisi persampahan di lingkuangan kita akan membaik.
Adapun penerapannya dimasyarakat membutuhkan waktu, penyuluhan yang serius terus menerus dan contoh-contoh agar mereka dapat berubah pola pikirannya, prilaku dan kebiasaan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Bila kesadaran di-masyarakat sudah timbul, maka penerapan Prinsip 4R itu juga mudah, maksudnya tidak menjadi beban.
Adapun Prinsip 4 R yang dimaksud adalah:
1. Reduce = Mengehat, mengurangi
2. Reuse = menggunakan kembali
3. Recycle = mendaur ulang
4. Replant = menanam kembali
Penerapan di masyarakat sebagai sumbang peran dalam penegolaan sampah dapat dimulai dengan menghemat pemakaian barang, mengurangi pemakaian plastic, membuat kompos sampah dapur kita sendiri dan sampah kebun dengan cara yang mudah dan murah. Kemudian mendaur ulang sampah kertas secara berkelompok ataupun perorangan.
Sampah dikelola, lingkungan akan bersih, hijau, indah, sehat dan nyaman untuk tempat tinggal.
Bersikaplah ramah terhadap alam dan alam akan menjaga kita dan prilaku bersih dan penuh tanggung jawab membuat hidup kita jadi lebih baik.
___*******__
Langganan:
Postingan (Atom)